Selasa, 02 Juli 2013

Panembahan Sunan Blingi


PULAU SAPUDI; PULAU YANG KAYA SEJARAH DAN SERAT

Oleh; Mohammad Ali*


Pulau sapudi merupakan pulau terluas kedua dan pulau dengan penduduk terbanyak yang ada di kepulauan Sumenep. Pulau ini terbagi atas dua kecamatan, yakni kecamatan Nonggunong dibagian Utara dan kacamatan Gayam di bagian Selatan. Dan secara keseluruhan Pulau sapudi terdapat 18 desa; 8 desa di kecamatan Nonggunong dan 10 desa di kecamatan Gayam.
Dipulau tersebut terdapat tokoh penyebar islam dan sekaligus pembebet pertama pulau tersebut, yang jasa-jasanya sangat dikenang oleh masyarakat pulau sapudi dan juga diluar pulau sapudi, yaitu raden Aryo Pulang Jiwo atau yang lebih mashur dengan sebutan Panembahan Sunan Wirokromo Blingi dab Aryo Sepuh Dewe atau Adi Podey.
Dalam catatan silsilah yang ada di Asta Blingi, raden Aryo Pulang Jiwo dan Aryo Sepuh Dewe masih mempunyai garisketurunan dari Raden Rahmat atau Sunan Ampel Surabaya. Bahkan dalam buku babat Sumenep, ia tercatat sebagai orang yang pertama kali membabat Pulau Sapudi dan Ra’as.
Di pulau tersebut terdapat berbagai peninggalan budaya yang masih dilestarikan oleh masyarakat sapudi, sehingga pulau tersebut masih mengandung nilai-nilai budaya yang unik yang terdapat dipulau tersebut, seperti Bheto Gung atauThogung, Sumur Tase’, Sumber Kodhung, Mercusuar  Z.M.Willem III, Gua karangkeng, dan penigggalan-peninggalan yang lain.

Menara suar atau mercusuar
Mercusuar atau Menara suar orang mengatakannya yang terdapat di Pulau Sapudi Kabupaten Sumenep merupakan salahsatu peninggalan penjajahan Belanda yang terletak dipinggir pantai pulau sapudi tepatnya Desa Tarebung Kecamatan Gayam.
Menara Suar ini Dinamakan Mercussuar ZM Willem karena Mercusuar ini dibangun pada tahun 1887 H, oleh Z.M.WILLEM III seorang Arsitek Belanda yang datang kepulau sapudi yang tidak lain menara tersebut sebagai alat untuk menjaga keamana tempat tersebut pada waktu itu.
Dalam Pembangunan menara Mercusuar ini,  Z.M.WILLEM III membutuhkan waktu ± 4 Tahun lamanya mulai dari perancangan hingga berdirinya menara tersebut, dengan ketinggian menera ± 80 Meter dan kedalaman pondasi ke dalam tanah ± 15 meter, dengan menggunakan Cor Timah. sehingga tidak herankalau bangunan tersebut masih berdiri kokoh  sampai saat ini. Menara Mercusuar ini memiliki ± 350 anak tangga, anti gempa dan anti petir. Dan terdapat Lampu pijar putar yang terdapat dimercusuar ini, dan mampu menjangkau cahaya hingga ± 18 mill/20 Km, dengan memakai tenaga Gas berbahan bakar Karbit sebagai aliran listrik.
Kompleks mercusuar Z.M. Willem mempunyai luas ± 1 Hektar Persegi Dan dikelilinggi bangunan – bangunan gaya arsitektur khas Belanda. dengan sarana navigasi laut yang berfungsi sebagai pandu laut untuk memberikan keselamatan bagi pengguna  lalulintas laut di Pulau Sapudi dan sebagai tanda adanya kepulauan tersebut.

Gua Karangkeng
Gunung karangkeng terletak ± 3 km diarah utara Desa Kalowang tepatnya di dusun Glugur Kecamatan Gayam, di dusun tersebut terdapat Gua yang disebut oleh masyarakat setempat dengan Gua Karangkeng. Gua tersebut adalah salah satu tempat petilasan atau bersemedinya WIROKROMO RADEN CANDRABINATA dan sangat erat kaitannya dengan sejarah pulau tersebut.

Pemandangan  sekitar Gunung tersebut begitu menakjubkan yang dikelilingi oleh batu-batu besar dan terdapat pepohonan yang berjajar indah sehingga pemandangannya membut elok dan nyaman, dan mengandung nilai budaya dan nilai sejarah bagi masyarakat setempat.
Di Gunung tersebut terdapat Dua Goa yang dikramatkan oleh masyarakat yaitu Goa Kerangkeng utara dan Goa Kerangkeng selatan, yang diyakini oleh masyarakat setempat sebagai tempat keramat dan sebagai tempat pertapaan (semedi) untuk mencari petunjuk dari yang maha kuasa. Dan tempat tersebut juga terdapat pemandangan yang indah, sehingga banyak orang yang berdatangan untuk berwisata menikmati keindahan alam di Gunung tersebut, biasanya ramai didatangai oleh para pengunjung yaitu pada hari libur sekolah.  

Pasarean (Tempat Istirahat Adi Podey)

Yang terletak di Desa Kalowang Kecamatan Gayam, yang merupakan tempat tinggal Adi Poday putra Sunan Wirokromo ( Panembahan Sunan Blingi). Pesarean Adi Poday yang saat ini masih berarsitektur kuno walaupun telah mengalami beberapa kali rehabilitasi, dan tetap terjaga keaslian bangunan dan bagian-bagian yang mengandung nilai-nilai yang sangat bersejarah, salah satu diantaranya Pondasi yang terbuat dari Tatal Kayu (sisa Kayu), yang masih dilestarikan oleh Juru Kunci pasarean tersebut Yaitu K. Suryo.
dizaman dulu, sebelum masyarakat mengenal bahan bangunan semen sebagai bahan perekat batu atau pasir, tempat tersebut masih menggunakan bahan alami yang diambil dari alam yaitu menggunakan kayu sebagai bahan bangunan pasarean tersebut, yang didalamnya terdapat empat pilar sebagai penyangga pasarean tersebut, dan di salah satu pilar tersebut terdapat tatal kayu sebagai pondasinya, alkisah karena pilar tersebut kurang panjang tidak sama panjangnya dengan pilar tersebut, sehingga tatal kayu tersebut dibuat pondasi untuk menyamakan dengan pilar yang lain, walaupun demikian pondasi tersebut sampai saat ini masih berdiri Kokoh dan kuat. 
Dan didalam pasarean tersebut terterdapat beberapa Pusaka peninggalan Adi Poday yang digunakan untuk bertempur menghadapi Raja Klungkung, diantaranya adalah Calok Kodhik (kujang), Keris, Golo’ dan Tombak yang masih terlestarikan oleh penjaga pasarean tersebut.
Selain itu, didalam bangunan tersebut terdapat tempat tidur (pasarean) yang digunakan oleh Adi Poday kala itu untuk beristirahat, dan terdapat Tempat Wudhu atau yang biasa disebut Padhasan,  dan semua Benda-benda tersebut masih tersimpan rapi dan terawat dengan rapi sampai saat ini.

Asta Adi Podey (Panembahan Sunan Wirobroto Nyamplong)
Asta atau kompleks Pemakaman Sunan Wirobroto atau lebih dikenal dengan Adi Sepuh Dewe  putra Sunan Wirokromo Blingi. Terletak di daerah perbukitan di Dusun Nyamplong Desa Nyamplong kecamatan Gayam, sekitar 8 Km sebelah barat daya desa Gayam. Adi Poday adalah salah satu orang pembabat Pulau Sapudi, dan juga merupakan seorang pemimpin dalam mempertahankan Pulau Sapudi dari jajahan raja dari Pulau Bali. Hubungan sapudi dengan Madura sangat eraat, lebih-lebih anak Adi Poday yaitu Joko Tole yang merupakan salah satu raja di kerajaan Sumenep.
Sumber Lokal menyebutkan, pada abad ke-14, Adi Poday lah yang mengajarkan cara beternak Sapi kepada masyarakat pulau sapudi, yang hingga saat ini masyarakat Pulau Sapudi mahir beternak Sapi, sehingga terkenal dengan pulau Sapi.
Di makam tersebut terdapat cungkub (Pintu Gerbang) utama yaitu ghunongan yang terbuat dari kayu dengan pahatan tangan yang cukup indah. Dan Ornamen keramik yang menempel di makam yang bermotif khas cina sehingga kelihatan indah. Seperti hal Asta Blingi, Asta Nyamplong pun sangat ramai dikunjungi oleh masyarakat, biasanya pengunjung banyak berziarah pada malam jum’at dan sekaligus bermalam, terutama malam jum’at manis. Pengunjung tidak hanya dari Pulau Sapudi atau Madura saja melainkan dari pulau sapudi. Seperti, dari Situbondo, Bondowoso dan Jember, dan daerah yang lain.

Panyeppen (Pertapan)

Tempat pertapaan atau yang dikenal oleh masyarakat sekitar Panyeppen, yang merupakan sebuah Batu Besar yang terdapat di pinggir Pantai, tepatnya di Dusun Kon Dajah Desa Prambanan Kecamatan Gayam. Dibalik Batu Besar tersebut terdapat sebuah bangunan yang menyerupai mushalla. Dan diyakini oleh masyarakat sekitar sebagai tempat  pesemedian Sunan Wirokromo atau Panembahan Blingi. Dan tempat tersebut mempunyai nilai sejarah, kekeramatan dan juga pemandangan yang indah, sehingga sering dikunjungi oleh masyarakat Sapudi maupun luar sapudi untuk semedi atau bertapa ditempat tersebut.
Fenomena alam yang ditunjukkan tempat tersebut adalah bongkahan batu yang menjulur ke pantai yang sangat indah dan menawan. Dan di Sebelah utara penyeppen, kita bisa menikmati indahnya pemandangan laut. Panyeppen ini merupakan salah satu saksi sejarah perjalanan panjang Sunan Wirokromo di Pulau Sapudi.
Dan masyarakat setempat mengkeramat tempat tersebut, sehingga walaupun begitu jauh dari pemukiman masyarakat, tempat tersebut masih tetap terjaga kebersihan. Untuk mencapai tempat tersebut kita harus menuruni bukit dan tebing, itulah salah satu saksi sejarah yang dari tapak tilas panembahan Blingi yang di kenal dengan sunan Wirokromo.

Asta Nyi Ro’om (Nyai yang mempunyai julukan Nyai Harum)

tepatnya di Desa Prambanan Kecamatan Gayam, terdapat sebuah makam atau asta yang berada ditepi pantai selatan desa Prambanan dibawah lereng. Masyarakat sekitar manyabutnya dengan Nyi Ro’om (Nyai harum), karena menurut masyarakat setempat, konon ditempat tersebut ditemukan jenazah yang terdampar dipinggir pantai dan diperkirakan sudah lebih satu minggu jenazah tersebut berada di pinggir pantai, namun jenazah itu tidak berbau busuk sebagaimana jenazah pada umum, malah justru jenazah tersebut berbau harum sehingga masyarakat sekitar ayal dengan kekuasaan Tuhan ini, sehingga masyarakat sekitar menyeutnya dengan Nyai Ro’om.
jenazah yang diperkirakan korban kapal tenggelam ini kemudian oleh masyarakat setempat dikubur dipinggir pantai, disekitar tempat ditemukannya jenazah. Ada sebagian masyarakat setempat yang menamainya dengan nama Ny. Syarifah Salmah. Asta yang banyak dikunjungi oleh masyarakat sapudi maupun dari luar sapudi ini, sampai saat ini dikeramatkan dan di lestarikan oleh masyarakat setempat, karena pada saat-saat tertentu masih menyebarkan bau yang harum biasanya pada malam ju’at manis orang mencium harum tersebut.

Taman Tua (Taman Beredhek)
Taman tersebut terletak di desa Prambanan Dusun Blingi Kecamatan Gayam, tepatnya dikediaman (Thelem) Sunan Blingi atau Panembahan Wirokromo di sebelah Utara Masjid An-Nur Blingi.  Dan Terdapat Rumah Kuno peninggalan Sunan Blingi yang masih kokoh berdiri tegak dan terjaga keasliannya oleh orang di sekitarnya, disamping tempat itu juga terdapat dua Kolam Pemandian yang masyarakat setempat menyebutnya sebagai “TAMAN TUA”.
Taman tua tersebut berada tepat dibawah masjid, dengan beberapa anak tangga untuk menuju Kolam pemandian. Sumber air di Taman Tua merupakan sumber mata air yang digunakan oleh masyarakat sekitar untuk keperluan sehari-hari, baik itu untuk kebutuhan air minum maupun mandi. Ini karena Air yang ada di Taman Tua jernih dan bersih. Masyarakat sekitar ikut menjaga kelestarian dan kebersihan taman tersebut.

Asta Blingi atau Sunan Wirokromo 
Kompleks Makam Atau Asta Blingi berada di Dusun Koattas Desa Gendang Timur Kecamatan Gayam, Asta Blingi sudah ada sejak Tahun 822 Hijriyah, makam utama berada dalam cungkub yang diletakkan di bagian paling utara yang terbuat dari kayu jati yang dipahat tangan dengan tatah, yang dikenal penduduk setempat sebagai Sunan Wirokromo atau Panembahan Blingi. Beliau adalah yang menemukan pulau sapudi, singkatan dari “Nosa Poday” yang berarti Pulau Poday.
Tidak jauh dari Asta Blingi tepatnya di timur Asta ditersimpan Calok Kodhik (Kujang), Batu Mustika, Sorban, Klambi Kerre dan tulisan prasasti dari daun lontar yang diyakini oleh masyarakat sekitempat sebagai peninggalan panembahan wirokromo. Peninggalan ini masih tersimpan rapi di rumah salah satu ahli waris Panembahan Wirokromo yaitu H. Fathurrahman (H. Emang )
Pada survey yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Yogyakarta pada tahun 1996, pada bagian masjid Kuno (Se-Jimat) tepatnya di belakang Asta tersebut dijumpai beberapa potong keramik asing. Obyek artefaktural yang ditemukan berupa pecahan keramik retak seribu yang berasal dari masa pemerintahan dinasti Ming Akhir, serta pecahan magkuk besar berhiasan motif sulur-suluran dari masa dinasti Ching, sehingga masjid tersebut diyakini oleh masyarakat sapudi sebagai masji pertama yang ada di pulau tersebut.

Prasasti Dusun Koattas
Banyak orang mengakan Prasasti dusun Koattas, karena prasasti tersebut ditemukan didusun koattas desa Gendang Timur Kecamatan Gayam pada tahun 1988. Tetapi ada pendapat lain mengatakan bahwa prasasti tersebut merupakan prasasti yang terdapat di masjid pertama di pulau sapudi, tepatnya dibelakang Asta Susuna Blingi. Karena masjid tersebut di rombak dan sisa bangunanya di pindah ke desa Gendang timur tepatnya di dusun Koattas (Sempangan) sehingga prasasti tersebut di klaim prasasti Koattas.
Prasasti yang bahan batu gamping berukuran panjang 49,5 cm, lebar 34,5 cm dan tebal 8 cm, ditemukan di bawah   bekas masjid lama tersebut, pada saat pembangunan masjid baru, prasasti tersebut disimpan oleh mantan kepala Desa Gendang Timur; H. Ach. Zaini Nur. Tulisan yang di guratkan pada prasasti tersebut terdiri dari 16 baris, memakai huruf arab dan berbahasa jawa, yang berisi silsilah pendiri bengunan masjid tua tersebut, sehingga sampai sekarang prasasti tersebut masih dilestarikan.
Sumber Kodhung
Dinamakan Sumber Kodhung, karena bentuknya menyerupai atap dan menutupi sumber mata air tersebut. Sumber Kodung adalah sumber mata air yang keluar dari cela-cela dinding batu cadas, terletak di Desa Jambuir Kecamatan Gayam. Sumber Kodung tersebut mempunyai dua pemandian (Tempat mandi) yaitu pemandian khusus laki-laki dan khusus perempuan serta   dikelilingi bebatuan yang sangat indah dan terdapat di atas bukit.
Menurut cerita lisan masyarakat, awalnya tempat tersebut adalah semak belukar dikelilingi batu-batu besar, secara tidak disengaja pemilik tempat mendapat wangsit agar tempat tersebut dibersihkan, akan tetapi belum sampai separuh membersihkan tempat tersebut, dia melihat sepasang Kerbau putih yang sedang menggaruk-garuk batu besar sedang mencari air minum karena kehausan, dan akhirnya si pemilik tanah mendapatkan firasat bahwa didalam batu besar tersebut terdapat suatu sumber mata air, dan penduduk yang ada disekitarnya langsung bergotong royong untuk menggali batu besar tersebut. ternyata benar adanya, belum selesai penggalian yang dilakukan sumber mata air keluar sedikit-demi sedikit dari cela-cela dinding batu yang diatasnya ditutupi bebatuan besar. Sehingga saat sekarang ini mata air tersebut dinamakan Sumber Kodhung.

Batu Gendhang
Berdasarkan keterangan masyarakat setempat dan sesepuh Pulau sapudi,  Seperti situs-situs yang lainnya, situs ini merupakan peninggalan Raja Klungkung Bali yang kalah dalam pertempuran melawan masyarakat sapudi dan akhirnya melarikan diri dari kejaran sapudi yang di pimpin oleh Adi Poday pada waktu itu dan di bantu oleh Putra nya Joko Tole. Karakteristik Batunyapun hampir sama dengan Betho Gong yang berbahan dasar basalt. Terletak di Dusun Gendang Desa Gendang Barat Kecamatan Gayam, Situs inilah yang mengilhami nama Desa Gendang Barat dan Gendang Timur.
Batu Besar yang berbentuk Gendang berukuran 1 x 1,5 M  dengan diameter 40 Cm, menjadi salah satu saksi perjalanan Raja Klungkung di Pulau Sapudi. Kondisi Batu Gendang sudah pecah dan kurang terawat. Untuk mencapai Lokasi Batu Gendang kita harus menggunakan Sepeda Motor, karena jalan yang dilalui adalah jalan setapak yang sempit dan cukup jauh.

Buju’ Dasar
Buju’ Dasar terdapat di Dusun Karang Tengah Desa Karang Tengah Kecamatan Gayam. Tidak jelas siapa nama asli Buju’ Dasar ini, namun masyarakat setempat memberikan nama Buju’ Dasar, Beliaulah yang pertama kali membuka lahan untuk membangun Pasar Ahaddhen (Pasar Mingguan) di Desa Karang Tengah.
Lokasi yang strategis menjadikan Pasar Ahadden di Desa Karang Tengah menjadi pusat perekonomian masyarakat Pulau Sapudi Kala Itu. Hingga saat inipun setiap Hari Minggu Pasar Ahadden menjadi Pasar yang ramai dan merupakan salah satu pasar yang terbesar di Kecamatan Gayam.
Pasar Ahaddhen ini tidak hanya didatangi masyarakat Kecamatan Gayam, tetapi juga Kecamatan Nonggunong, Kecamatan Ra’as dan Pulau-Pulau disekitarnya seperti Pulau Bulu Manuk dan Pulau Payangan. Buju’ Dasar oleh masyarakat menjadi salah satu tempat yang dikeramatkan dan dikenang jasa-jasanya, karena dianggap menjadi salah satu Tokoh yang membangun Perekonomian Pulau Sapudi sehingga setiap malam jum’at banyak orang yang berdatangan untuk berziarah lebih-lebih pada malam jum’at manis.

 Buju’ (Makam  Kaji )  Angganiti, Agung Sahelah
Buju’ Kaji masyarakat setempat menyebutnya Adalah salah satu Penasehat sekaligus murid Sunan Blingi atau yg dikenal dengan Panembahan Wirokromo yang terkenal sakti. Yang terletak di Dusun Cenlecen Desa Pancor Kecamatan Gayam.
Menurut cerita masyarakat setempat, ada beberapa masyarakat yang berniat membangun Congkop (Pelindung Makam)embah Kaji, namun tidak pernah berhasil sebab congkop yang dibangunnya selalu berpindah disebelah makam. sehingga sampai saat ini Makam Buju’ Kaji tetap terbuka dan berada diluar tampa congkop. Bahkan usaha masyarakat untuk menerangi makam dengan lampu listrikpun juga mengalami kegagalan, sebab setiap kali dipasang lampu, lampu tersebut padam dengan sendirinya.  Oleh karena itulah masyarakat setempat mengkeramatkan Buju’ ini dan melestarikan peninggalan yang terdapat di makam tersebut seperti Baju, sandal, rambut, dan Minyak kelapa yang diyakini oleh masyarakat bisa menyembuhkan segala penyakit.
Keindahan dan keanehan yang lain dari Buju’ Kaji, adalah untuk memasuki makam ini kita harus naik akar-akar pohon beringin dan melewati pintu Buju’ yang berupa rekahan pohon beringin. Fenomena alam yang aneh, unik tersebut cukup menarik. Dan sampai saat ini banyak yang berziarah ke Buju’ Kaji ini lebih-lebih pada malam jum’at orang yang berziyarah hingga pagi.

Bheto Gung/Thogung
Situs ini juga mengilhami nama dusun lokasi tersebut, yaitu Togung yang singkatan dari Betho Gung. Terletak di Desa Pancor di sudut barat laut pemakaman umum. Situs ini berwujud tiga belas buah umpak batu (basalt) yang menyerupai gong dan sebuah lingga semu setinggi 53 cm berbahan basalt yang merupakan alat penabuh (alat pemukul) gong.
Keberadaan situs ini dikaitkan dengan cerita tentang Raja Klungkung yang terpaksa melarikan diri dari kratonnya dari Somber akibat serangan yang dilakukan oleh Adi Poday. Ketika itu sebagian instrumen gamelan pusakan yang dimilikinya tertinggal. Ukuran masing-masing Umpak berkisar antara: Tebal atau tinggi: 25 – 38 Cm; diameter keseluruhan  60 – 74 Cm; Diameter Tonjolan  23 – 25 Cm
Menurut Keterangan masyarakat, batu ini setiap malam jum’at berbunyi, tapi yang mendengar hanya orang-orang tertentu saja. Selain itu, di sebelah utara situs ini terdapat sumber yang airnya tawar dan menjadi pemasok air masyarakat Desa Pancor dan Gayam, dan sampai sekarang peninggalan raja klungkung ini masih terlestarikan dan menjadi wisata bagi masyarakat sapudi dan juga masyarakat diluar sapudi sebagai objek penelitian baik bahan skripsi maupun media cetak.

Betho Bedhil
Terletak di Dusun Kaladi Desa Pancor Kecamatan Gayam sekitar 3 Km di sebelah Timur Gayam. Terdapat sepotong batuan pasir (sandstone) berwarna kuning kecoklatan berukuran panjang 159 Cm dan tebal 28 Cm. Benda yang dikeramatkan ini masyarakat biasa menyebutkan BETHO BEDHIL, dikatakan sebagai senjata Raja Klungkung yang tertinggal ketikan kalah melarikan diri dari kejaran Adi Poday.
Raja Klungkung memang pada saat itu berusaha menguasai Madura dan Pulau Sapudi, namun di Pulau Sapudi raja kelungkung mendapatkan perlawanan dari masyarakat Sapudi yang dipimpin langsung oleh Adi Poday beserta putranya aitu Joko Tole. Di dusun KALADI tempat ditemukannya Betho bedhil tersebut, nama tersebut merupakan singkatan dari “Kalah e Die” (Kalah disini). menurut sesepuh Gayam Kaladi adalah tempat titik kekalahan pasukan Raja Klungkung dengan Pasukan Adi Poday di tempat tersebut sehingga di kenang dengan nama sebuah dusun di desa pancor.

Sumur Tase’
Fenomena Alam yang cukup unik ini bisa di temui di Dusun Jambusok Desa Prambanan Kecamatan Gayam, namun dusun tersebut lebih di kenal dengan nama somor tase’, tepat di sisi Pelabuhan Sumur Tase’, pelabuhan yang menghubungkan Kecamatan Gayam dengan Kecamatan Ra’as.
Ditepi pantai tersebut terdapat sebuah sumur yang berada di tepat diPinggir pantai tetapi airnya tawar dan segar. Bahkan Masyarakat sekitar menjadikannya sebagai pasokan sumber air minum. Salah satu keunikan dari Sumur Tasek ini adalah sumber mata airnya yang tidak pernah habis-habis walaupun musim kemarau.
Masyarakat juga menjadikan sumur tasek sebagai tanda perubahan musim, pada saat tertentu air akan berasa asin sampai tiga kali, maka itu akan menjadi tanda adanya perubahan musim kemarau ke musim penghujan ataupun sebaliknya. Di sekitar Sumur Tasek, kita juga bisa melihat indahnya batu-batu karang yang menjulang ke pantai dan panorama laun yang begitu indah, dan tempat tersebut juga sebagai wisata bagi masyarakat sapudi.

Goa Blingi
Masih satu kompleks dengan Asta Blingi atau sunan Wirokromo, tepat di samping timur asta. Goa yang penuh stalaktit yang indah dan mempesona, tidak banyak orang yang mengetahui keberadaan goa ini karena letaknya yang tersembunyi tepat dibawah kayu besar yaitu kayu Nangger Goa tersebut barada.
Menurut keterangan masyarakat setempat dan Juru Kunci  Asta Blingi, Goa Blingi terdapat beberapa tembusan yang diyakini oleh masyarakat setempat bisa tembus ke Gunung Carron di kabupaten Situbondo dan ke Mekkah. Sumber lokal menyebutkan Goa Blingi adalah terowongan jalan yang menghubungkan Pulau Sapudi dengan Situbondo yang sewaktu-waktu digunakan Panembahan Wirokromo untuk mengusir binatang buas ke gunung Carron di kala itu.
Dari luar Goa ini tampak kecil, karena kita masih harus menuruni ke bawah untuk menuju ruang bagian dalam goa yang cukup luas. Walau Didalam goa masih banyak kita jumpai Kelelawar, namun kondisi Goa cukup bersih. Diujung goa ada lobang kecil seukuran manusia yang menghubungkan kebagian goa yang lain, sehingga kita harus merangkak untuk melewatinya. Dan apabila kita akan masuk goa tersebut kita harus menyiapkan penerangan senter atau obor untuk melaluinya, karena di dalam goa tersebut begitu gelap.
dan goa tersebut juga mempunyai keunikan, yaitu dalam goa tersebut terdapat Taman dan sungai didalamnya sehingga masyarakat sapudi dan juga luar sapudi mengambil air untuk di minum dan masyarakat meyakini air tersebut bisa menjadi obat untuk setiap penyakit, dan tidak hanya itu i dalam goa tersebut juga terdapat petilasan untuk mendekatkan diri pada tuhan yang maha kuasa, sehingga tak jarang kita temui orang yang sering bertapa di goa tersebut.

Goa Sapi ( Goa Enoman )
Goa Sapi begitu masyarakat menyebutnya, yang terletak di Dusun Minomi Desa Prambanan Kecamatan Gayam. Goa Sapi ini merupakan salah satu situs yang menguatkan Kenapa Jumlah Sapi di Pulau Sapudi tidak pernah habis-habis, walaupun setiap minggunya + 500 ekor sapi yang keluar Pulau Sapudi. Goa Sapi dipercaya oleh masyarakat Sapudi sebagai Rumah Ratunya Sapi. Sehingga masyarakat Gayam lebih menyebut goa ini sebagai “GOA RATU SAPI”.
Konon menurut cerita masyarakat setempat, Di Dalam Goa tersebut ada sepasang sapi yang besarnya 2 kali lipat dari sapi biasanya, bertanduk dan Ujung Kakinya terbuat dari Emas, menampak dirinya setiap malam jum’at manis.
Goa Sapi dipercaya oleh masyarakat Sapudi maupun Luar Sapudi (dari Kabupaten Situbondo dan Bondowoso) bisa mengabulkan  permintaan untuk memperbanyak sapi dengan cara membawa Tongar Sapi (Tali Kekang Sapi) ke Goa Sapi tersebut. Dibalik itu semua, keunikan Fenomena alam yang eksotik dapat kita lihat di Goa Sapi itu, Goa yang ada di balik Pohon Enoman ini indah dan Menawan dan tempat ini juga dijadikan tempat wisata bagi masyarakat sapudi.

Kelbhu’
Terletak di desa kalowang sekitar ± 2 Km arah utara jalan raya Desa Kalowang Kecamatan Gayam, Kelbhu’ mempunyai ciri khas dengan semburan lumpur dengan luas semburan sekitar ± 50 meter persegi.  Pemilik tanah tidak bisa menyebutkan sejak kapan kemunculan kelbhu’ itu ditanah tersebut, kemunculan kelbhu’ itu sudah berlangsung 7 turunan sebelum pemilik tanah yang sekarang.
Ada sebagian masyarakat yang menganggap kelbhu’ ini merupakan semburan lumpur yang diakibatkan oleh semburan gas alam yang terdapat di Pulau Sapudi, seperti halnya Lumpur Lapindo di Sidoarjo, dan sebagian masyarakat mengatakan bahwa konon dulu orang belanda memasukan sebuah kotak di tempat tersebut tidak lama kamudian kotak tersebut diambilnya sehingga kemudian keluar air dan menjadi sepeti saat ini, dulu semburan tersebut bukan berbentuk lumpur tetapi air biasa, tetapi dengan adanya gempa pada waktu itu sehingga suhu bumi tersebut berubah dan semburan tersebut berubah menjadi lumpur.
Namun anehnya kelbhu’ yang ada di Desa Kalowang ini tidak mengeluarkan asap dan bau. Perlu penelitian lebih lanjut untuk membuktikan apakah kelbhu’ ini merupakan semburan Gas atau bukan. Ada sebagian masyarakat yang percaya bahwa Semburan Kelbhu’ tembus sampai goa dasar laut sebelah barat Kalowang.


*Anggota Kelompok Kajian Pojok Surau (KKPS)


7 komentar:

  1. Pulau madhura penuh sejarah ya

    BalasHapus
  2. Mantaap Alhamdulillah, pulauku penuh dengan cerita kebudayaan

    BalasHapus
  3. Mantap....
    Tp ad yg tw gak thun berdirinya pulau sepudi?

    BalasHapus
    Balasan
    1. kok ada tahun berdirinya pulau sapudi, sapudi itu nama pulau, baru kalau berbicara Panembahan Blingi akan berbicara tahun brapa peralihan kerajaan Sumenep ke Pulau Sapudi.

      Hapus
  4. Mantap....
    Tp ad yg tw gak thun berdirinya pulau sepudi?

    BalasHapus